Ratusan Tokoh NU Jatim Bertemu Bahas Presidium & MLB
Woke, siap! Mari kita bedah berita ini dengan gaya yang lebih santai dan kekinian.
Geger! Ratusan Tokoh NU Jatim Kumpul Bahas Masa Depan Organisasi
Hai, gaes! Ada kabar seru nih dari Jawa Timur. Ratusan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai penjuru Jatim, baru-baru ini kumpul bareng buat diskusi serius. Bukan ngobrolin kopi atau cuaca, tapi soal masa depan NU! Mereka ini bukan sembarang orang, lho. Ada Masyayikh, aktivis, bahkan Presidium Penyelamat Organisasi (Presidium PO) dan Muktamar Luar Biasa NU (MLB NU). Penasaran kan, apa aja yang mereka bahas? Yuk, kita simak!
image just illustration
Diskusi Serius, Bukan Sekadar Kumpul-kumpul
Acara yang dikemas dalam diskusi publik dan bahtsul masail ini, mengambil tema yang cukup menggelitik, yaitu ‘Mencari Sosok Rois Aam dan Ketum PBNU yang Teduh, Kapabel, dan Berintegritas’. Bayangin aja, mereka kumpul di ballroom hotel mewah di Kediri, Jawa Timur, pada hari Sabtu (25/1).
Para narasumbernya juga bukan kaleng-kaleng, lho! Ada Prof. Dr. H. Muhammad Nasir, Ph.D (mantan Menristek Dikti sekaligus Ketua LPT PBNU), KH Abdussalam Shohib (Ketua Presidium PO & MLBN dan Pengasuh PP Mambaul Ma’arif), serta KH Saeful Rijal Ajib. Bahkan, ada Bahtsul Masail yang membahas isu-isu penting, dengan narasumber KH. Lora Dimyati Muhammad, KH Achmad Rosikh Roghibi, dan KH Miftahul Falah, serta Dr. KH Marzuki Mustamar.
Marwah NU, Harga Diri yang Tak Boleh Diganggu Gugat
Salah satu poin penting yang muncul dalam diskusi ini adalah tentang marwah NU. Mereka sepakat bahwa kebanggaan terhadap NU itu gak boleh luntur sedikitpun. Kebanggaan itu didasari oleh landasan teologis, filosofis, dan sosiologis yang kuat. Mereka juga bangga dengan para muassis dan masyayikh NU yang luar biasa.
“Forum silaturahim menyadari bahwa marwah NU; kehormatan, harga diri dan nama baik NU tidak bergantung pada pengurusnya, dan sebaliknya, pengurus berkewajiban dan bertanggung jawab menjaga marwah NU demi ta’dhim dan memuliakan para pendiri (muassis) dan masyayikh pendahulu serta ulama pesantren, penopang jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” kata KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam.
Mereka juga menekankan bahwa kebesaran NU tidak identik dengan pengurusnya. Jika pengurusnya bertindak di luar garis aturan, mereka wajib diingatkan dan dinasehati. Bahkan, ada mekanisme organisasi jika ada pelanggaran berat dari Mandataris (Rais Aam dan Ketua Umum PBNU).
Cari Pemimpin Ideal ala NU
Para tokoh NU ini juga membahas tentang kriteria pemimpin ideal bagi NU. Mereka merujuk pada doktrin Muassis NU, bahwa “Ulamā Umanā’ullāh ‘Alā ‘Ibādihi” (ulama NU adalah pemegang amanat Allah atas hambaNya). Pemimpin NU harus memiliki sifat-sifat mulia, kepeloporan, teladan, dan orientasi suci. Mereka juga harus mewarisi kepemimpinan dan perjuangan nabi/rosul.
Gus Salam memberikan contoh para Rais Aam PBNU terdahulu, seperti Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Dr.(HC) KH. Sahal Mahfudz, hingga KH. Ali Ma’shum, yang semuanya adalah sosok ulama, munadzdzim, dan muharrik dengan karya monumental. Sementara itu, Ketua Umum PBNU seperti KH Said Aqil Siroj, KH. Hasyim Muzadi, dan Gus Dur adalah sosok operator lapangan yang dekat dengan pesantren dan nahdliyyin.
Kritik Tajam untuk Kepemimpinan PBNU Saat Ini
Namun, kritik keras juga dilontarkan untuk kepemimpinan PBNU periode 2022-2027. Menurut mereka, dalam tiga tahun terakhir, kehormatan dan nama baik NU menjadi pergunjingan publik. Terjadi banyak konflik yang memicu respon negatif dari berbagai pihak. Kinerja dan kepemimpinan PBNU saat ini dinilai penuh anomali, inkonsistensi, dan penyimpangan.
Forum diskusi berharap pemimpin NU ke depan adalah sosok yang bisa menjadi panutan kharistik bagi kalangan bawah, pembangkit perubahan bagi kalangan menengah, dan inspirator serta guru bagi kalangan atas. Mereka juga merekomendasikan agar PBNU saat ini kembali ke jalan yang benar, sesuai dengan warisan muassis dan konstitusi NU.
Masalah Dana Zakat untuk Program Makan Bergizi Gratis
Selain itu, dalam forum bahtsul masail, mereka juga membahas tentang hukum menggunakan dana zakat untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah didiskusikan, mereka sepakat bahwa dana zakat tidak diperbolehkan digunakan untuk program MBG, karena dana zakat sudah ada ketentuan sasarannya. Mereka merekomendasikan agar dana infaq dan shodaqoh digunakan untuk program bantuan yang lebih bermanfaat.
Kesimpulan dan Aksi Nyata
Nah, itu dia rangkuman seru dari pertemuan ratusan tokoh NU di Jawa Timur. Dari diskusi ini, kita bisa melihat bahwa mereka sangat peduli dengan masa depan NU. Mereka ingin agar NU terus menjadi organisasi yang berintegritas dan memberikan manfaat bagi umat.
Gimana menurut kamu? Apa pendapatmu tentang pembahasan ini? Jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar ya! Jangan lupa juga untuk terus ikuti perkembangan berita lainnya. Siapa tahu, kamu bisa jadi bagian dari perubahan!
Yuk, Berpartisipasi!
Jangan cuma jadi penonton, jadilah bagian dari perubahan! Ikuti terus berita-berita terkini, berikan pendapatmu, dan mari bersama-sama membangun bangsa yang lebih baik! Sampai jumpa di artikel selanjutnya!
Posting Komentar