Terungkap! Alasan Ahmad Tohari Lahirkan Ronggeng Dukuh Paruk
Hai guys, pernah gak sih penasaran, kenapa sih novel Ronggeng Dukuh Paruk itu bisa tercipta? Nah, kali ini kita bakal ngulik tuntas inspirasi di balik karya masterpiece Ahmad Tohari ini! Siap-siap terkejut ya!
Awal Mula Ahmad Tohari Merantau¶
image just illustration
Jadi, ceritanya gini, Ahmad Tohari itu dulunya gak jago macul atau ngarit (istilah untuk aktivitas pertanian di desa). Karena bingung mau ngapain di desanya, Tinggarjaya, Banyumas, akhirnya orang tua nyaranin doi buat merantau.
“Macul tidak bisa, ngarit tidak bisa. Akhirnya oleh orang tua disarankan merantau,” kata Ahmad Tohari, dalam acara peluncuran buku “Cahaya di Tengah Kegelapan” dari Ikatan Penulis Anyar Banyumas (IPAB).
Singkat cerita, doi nyoba ngelamar kerja di surat kabar dan diterima. Dari situ, doi mulai kirim naskah ke penerbit dan ternyata diterima juga. Nah, dari situlah awal mula karir kepenulisan beliau dimulai. Keren ya!
Momen yang Menginspirasi: Pertemuan dengan Penari Ronggeng¶
image just illustration
Ini nih yang paling seru. Jadi, waktu Ahmad Tohari masih berusia 17 tahun, doi pernah pergi ke hutan sambil bawa senapan. Tiba-tiba, terdengar suara gemericik air. Penasaran, doi deketin suara itu dan… ternyata ada perempuan cantik lagi mandi!
“Sampai sekarang saya masih mengingat tentang keindahan tubuh perempuan itu. Ternyata perempuan itu adalah penari Ronggeng. Itulah yang melatarbelakangi saya menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk,” jelas Ahmad Tohari di Gubug Carablaka Rumah Sastra Ahmad Tohari, Minggu (29/12/2024).
Wah, ternyata pertemuan yang tak terduga ini jadi inspirasi besar bagi beliau. Dari sini kita bisa belajar, bahwa inspirasi bisa datang dari mana aja, bahkan dari momen yang paling sederhana sekalipun.
Apresiasi untuk Penulis Muda dan Literasi¶
Selain menceritakan kisah di balik Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari juga mengapresiasi buku antologi cerpen “Cahaya di Tengah Kegelapan” karya 12 anggota IPAB. Beliau juga berpesan supaya para penulis muda ini tetap produktif dan terus memperkaya wawasan dengan banyak membaca. Mantap!
Ketua IPAB, Heru Siswanto, juga mengutip ungkapan Latin “Quia scribo, ergo sum” (Karena menulis maka aku ada), sebagai pengingat akan pentingnya literasi. CEO SIP Publishing, Indra Defandra, juga berharap kerja sama dengan IPAB bisa terus berlanjut.
Penutup¶
Gimana, guys? Keren banget kan kisah di balik lahirnya novel Ronggeng Dukuh Paruk? Ternyata, dari pengalaman pribadi yang sederhana, bisa lahir sebuah karya sastra yang melegenda. Semoga kisah ini bisa jadi inspirasi buat kita semua untuk terus berkarya dan mengejar passion. Jangan lupa untuk selalu membaca dan menulis ya!
Buat kalian yang punya pendapat atau pengalaman menarik terkait novel ini, yuk sharing di kolom komentar! Siapa tahu dari situ kita bisa dapat inspirasi baru. Jangan lupa juga untuk datang lagi ke sini, karena kita akan selalu update dengan berbagai info menarik lainnya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!
Posting Komentar