Yuk, Intip Yasa Peksi Burak, Tradisi Unik Keraton Jogja Sambut Isra Mi'raj!
Hai, hai, teman-teman! Ada kabar seru nih dari Jogja! Keraton Yogyakarta baru aja merayakan Isra Mi’raj dengan cara yang unik banget, lho. Penasaran? Yuk, kita intip bareng-bareng!
Tradisi Yasa Peksi Burak: Bukan Perayaan Biasa¶
image just illustration
Beda dari perayaan Idul Fitri atau Maulud Nabi yang identik dengan Gerebeg, Keraton Yogyakarta punya cara sendiri untuk memperingati Isra Mi’raj. Mereka menggelar tradisi yang disebut Yasa Peksi Burak. Apa sih itu?
Yasa Peksi Burak ini adalah tradisi di mana para Abdi Dalem merangkai Peksi Burak, semacam kreasi seni yang terbuat dari buah-buahan dan bunga. Jadi, bukan sekadar hiasan biasa, ya!
Proses Pembuatan yang Sakral¶
Prosesnya juga nggak main-main, loh! Dimulai sejak pukul 10 pagi di Bangsal Sekar Kedhaton, perakitan Peksi Burak ini dilakukan secara tertutup. Setelah Shalat Ashar, sekitar pukul 13.30, Peksi Burak baru dibawa ke Masjid Gedhe. Bayangin, prosesnya aja udah khidmat banget, kan?
Ada dua Peksi Burak yang dibuat, dan belasan Abdi Dalem menggotongnya dengan dipikul. Mereka berjalan kaki dari Keraton menuju Masjid Gedhe. Ini bukan cuma tradisi, tapi juga bentuk pengabdian yang luar biasa.
Apa Itu Peksi Burak?¶
Peksi Burak sendiri itu wujudnya menyerupai burung, terbuat dari buah-buahan dan kulit jeruk bali yang diukir. Uniknya, ada perbedaan antara burung jantan dan betina. Burung jantan punya jengger (pial), sedangkan yang betina nggak. Setiap Peksi Burak juga diletakkan di atas susuh atau sarang yang dirangkai dari daun kemuning. Keren, kan?
Makna Mendalam di Balik Yasa Peksi Burak¶
Menurut KMRT Sarihartoko Di Puro, Yasa Peksi Burak adalah cara Keraton Yogyakarta untuk mengenang perjalanan Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi’raj. “Peksi Burak adalah rangkaian bahwasanya diwujudkan dalam waktu Nabi Muhammad SAW, dalam bahasa Jawanya tindak ke langit ke 7 pakai Peksi Burak,” jelasnya.
Nggak cuma itu, dalam Peksi Burak juga ada uba rampe seperti pisang, jeruk, manggis, dan tebu. Setiap buah ini punya makna tersendiri, lho:
| Uba Rampe | Makna |
|---|---|
| Tebu | “Mantep ing kalbu” (hati yang mantap), saat Nabi Muhammad melakukan perjalanan ke langit ketujuh |
| Rambutan | Melambangkan bulan yang cerah saat Nabi Muhammad ke langit ketujuh |
| Manggis | “Mantep ing is” (suci), pakaian bersih yang suci Nabi Muhammad saat ke langit ketujuh |
Tradisi ini udah berlangsung sejak masa Raja Pertama Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I. Jadi, benar-benar tradisi yang sudah mengakar kuat, ya!
Prosesi Malam yang Syahdu¶
Setelah serah terima, Peksi Burak diletakkan di Masjid Gedhe sampai malam hari. Kemudian, ada prosesi pembacaan Isra Mi’raj selama satu jam, mulai pukul 20.00 hingga 21.00. Setelah itu, ada pembagian uba rampe Peksi Burak untuk para Abdi Dalem Keraton.
Perlu diingat! Yasa Peksi Burak ini beda dengan Gunungan yang ada di perayaan lain seperti Maulud atau Gerebeg. Jadi, ini memang perayaan khusus untuk Isra Mi’raj.
Kesimpulan¶
Gimana, teman-teman? Keren banget kan tradisi Yasa Peksi Burak ini? Ternyata, setiap perayaan di Keraton Yogyakarta punya makna dan keunikan tersendiri. Ini bukan cuma sekadar tradisi, tapi juga bentuk pelestarian budaya dan pengabdian yang patut kita apresiasi.
Yuk, kalau ada kesempatan, coba deh datang ke Jogja pas perayaan Isra Mi’raj. Pasti bakal jadi pengalaman yang berkesan banget! Jangan lupa juga untuk tinggalkan komentar di bawah ya, pendapat kalian tentang tradisi ini! Atau mungkin ada pengalaman menarik lain tentang tradisi di Indonesia? Jangan ragu untuk berbagi! Sampai jumpa di artikel selanjutnya!
Posting Komentar