Pika Sasikirana Meninggal: Ganja Medis, Pemerintah Masih Lambat?
Kabar duka datang dari dunia advokasi ganja medis di Indonesia. Pika Sasikirana, seorang anak pejuang cerebral palsy, telah berpulang. Perjuangan ibunya, Santi Warastuti, untuk mendapatkan akses ganja medis bagi Pika menjadi sorotan banyak pihak. Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Perjuangan Pika dan Ganja Medis: Sebuah Kilas Balik¶
image just illustration
Santi Warastuti, ibunda Pika, adalah salah satu yang gigih memperjuangkan legalisasi ganja medis di Indonesia. Ia bahkan mengajukan uji materi terhadap Undang-Undang Narkotika terkait regulasi ganja medis. Sayangnya, perjuangan ini harus terhenti dengan kepergian Pika pada hari Selasa, 18 Maret 2025 pukul 19.30 WIB.
Apa Itu Cerebral Palsy?¶
Buat yang belum tahu, cerebral palsy adalah gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi pergerakan tubuh dan koordinasi otot. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan atau gangguan pada otak yang sedang berkembang. Hal ini membuat otak kesulitan mengontrol gerakan, keseimbangan, dan postur tubuh. Ini bukan penyakit menular atau progresif, tapi dampaknya bisa sangat signifikan bagi kualitas hidup penderitanya.
Pemerintah dan Ganja Medis: Masihkah Lambat?¶
Mahkamah Konstitusi (MK) sebenarnya sudah membahas isu ini dalam Putusan No. 106/PUU-XVIII/2020. Meskipun MK menolak permohonan untuk mengeluarkan ganja dari daftar narkotika golongan I, mereka menekankan pentingnya kajian dan penelitian lebih lanjut mengenai potensi ganja untuk keperluan medis. MK menegaskan, jika penelitian ilmiah membuktikan manfaat ganja bagi kesehatan, negara seharusnya tidak menutup kemungkinan untuk memanfaatkannya.
Sayangnya, hingga Pika tiada, pemerintah belum juga melakukan riset mendalam terkait penggunaan ganja dalam dunia medis. Hal ini seperti yang dikutip dari akun X @LBHMasyarakat.
“Meskipun sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 106/PUU-XVIII/2020, Pemerintah hingga sekarang masih belum melakukan penelitian terkait penggunaan ganja untuk kepentingan medis. Jangan sampai ada Pika lain yang kembali merasakan hal serupa: tidak terpenuhi hak atas kesehatannya, sehingga hal paling penting dan mendasar yakni hak atas hidupnya jadi terancam”
Tabel: Perbandingan Respon Negara Lain Terhadap Ganja Medis¶
Mungkin akan menarik untuk melihat bagaimana negara lain menghadapi isu ini, berikut contoh perbandingannya:
| Negara | Status Ganja Medis | Riset dan Implementasi |
|---|---|---|
| Kanada | Legal secara nasional | Riset luas, implementasi terkontrol |
| Australia | Legal dengan resep dokter | Riset berkembang, akses bertahap |
| Indonesia | Ilegal (kecuali untuk riset tertentu dengan izin khusus) | Riset terbatas, implementasi belum ada |
| Thailand | Legal | Riset aktif, implementasi luas dan terkontrol |
Mari Bersuara!¶
Kepergian Pika adalah pengingat yang menyakitkan tentang pentingnya akses pengobatan yang layak bagi semua warga negara, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus. LBH Masyarakat mengajak kita semua untuk terus mendorong pemerintah agar negara memenuhi hak atas kesehatan warganya.
Wafatnya Pika Sasikirana menjadi bukti bahwa pemerintah masih lambat dalam melakukan riset ganja medis, dan Pika sasikirana adalah salah satu kepergian untuk mengingat semua ini.
Mari kita jadikan kepergian Pika sebagai momentum untuk perubahan. Suarakan pendapatmu, dukung penelitian ganja medis, dan pastikan tidak ada lagi Pika lain yang harus menderita karena kurangnya akses pengobatan. Bagaimana pendapatmu tentang isu ini? Yuk, diskusi di kolom komentar! Jangan lupa kunjungi lagi untuk mendapatkan informasi terbaru dan inspiratif lainnya.
Posting Komentar