Jurnalis Dihajar Oknum Aparat, Aksi Solidaritas Menggema!

Table of Contents

Gawat! Jurnalis Dihajar, Solidaritas Menggema di Semarang!

Lagi panas nih! Teman-teman jurnalis di Semarang baru aja kena musibah. Kekerasan terhadap mereka makin menjadi-jadi, dan ini bikin kita semua sebagai masyarakat sipil nggak bisa tinggal diam. Yuk, simak berita selengkapnya!

Aksi Kamisan: Suara Jurnalis dan Masyarakat Sipil Bergema

Jurnalis Dihajar Oknum Aparat, Aksi Solidaritas Menggema!
image just illustration

Kemarin sore, Kamis (17/4/2025), sejumlah jurnalis dan aliansi masyarakat sipil turun ke jalan menggelar Aksi Kamisan di depan Mapolda Jateng, Semarang. Aksi ini jadi bentuk protes atas maraknya kekerasan yang menimpa para jurnalis belakangan ini. Mereka nggak terima dengan perlakuan oknum aparat yang seenaknya sendiri.

Long March dan Orasi: Bentuk Kekesalan

Massa memulai aksinya dengan long march dari bundaran Jalan Pahlawan menuju Mapolda Jateng. Sambil berjalan, mereka membentangkan poster-poster dengan tulisan yang menusuk hati: ‘save journalist’, ‘jurnalis bukan teroris’, ‘journalist is not a crime, brutality is’. Tema yang mereka angkat kali ini nggak main-main: ‘Kalau Aparat Berani Menempeleng Jurnalis, Artinya Demokrasi Sedang Terancam’. Ngeri!

Korlap Aksi: Kekerasan Aparat Semakin Meresahkan

Koordinator Lapangan Aksi, Raditya Mahendra Yasa, menyinggung kejadian nggak enak yang dialami pewarta foto dari Kantor Berita Antara beberapa waktu lalu. Katanya, kejadian itu cuma riak-riak kecil dari represi aparat terhadap jurnalis. “Itu adalah potret bagaimana kekerasan yang selalu dilakukan oleh aparat entah itu polisi, entah itu TNI, aparat negara, Pemda dan sebagainya,” ujar Mahendra dengan nada geram.

AJI Kota Semarang: Kebebasan Pers Terkikis

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang, Aris Mulyawan, juga ikut bersuara. Dia bilang kebebasan pers di Jawa Tengah udah darurat. “Jawa Tengah darurat kebebasan Pers. Jawa Tengah darurat keamanan bagi jurnalis. Akhir-akhir ini seperti kekerasan terhadap jurnalis terus meningkat,” tegasnya. Nggak cuma jurnalis media mainstream aja yang kena, anggota pers mahasiswa pun ikut diintimidasi.

Simbol Demokrasi yang Mati

Nggak cuma orasi, aksi ini juga diwarnai dengan simbol-simbol yang bikin merinding. Dupa dinyalakan di atas makam buatan bertuliskan ‘RIP Demokrasi’. Bunga-bunga juga ditebar di atas makam tersebut sebagai simbol demokrasi yang udah mati. Dalem banget!

Tuntutan Aksi: Suara yang Harus Didengar

Di akhir aksi, massa membacakan tuntutan yang jelas dan tegas:

  1. Pecat Aparat Pelaku Kekerasan Terhadap Jurnalis!
  2. Ciptakan Ruang Aman untuk Jurnalis!
  3. Aparat Harus Patuh dengan Undang-undang Pers!
  4. Kapolri Bertanggung Jawab kepada anggota yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis!
  5. Meminta Perusahaan Media Melindungi Jurnalis Korban Kekerasan!

Semoga tuntutan ini didengar dan segera diwujudkan, ya!

Kesimpulan: Jangan Biarkan Jurnalis Dibungkam!

Kekerasan terhadap jurnalis adalah ancaman bagi demokrasi. Kalau jurnalis dibungkam, gimana kita bisa tahu kebenaran? Mari kita dukung kebebasan pers dan lawan segala bentuk kekerasan terhadap jurnalis!

Jangan lupa untuk bagikan artikel ini ke teman-temanmu dan berikan komentar di bawah. Mari kita bersuara bersama untuk kebebasan pers! Kunjungi kembali untuk informasi berita lainnya.

Posting Komentar