Komunikasi Politik Indonesia: Kata Profesor LSPR, Masih Abu-Abu!

Table of Contents

Wokei, siap! Ini dia hasil rewrite berita kamu dengan gaya yang lebih santai dan ada bumbu improvisasinya:

Judul: Waduh! Komunikasi Politik di Indonesia Masih Abu-Abu? Profesor LSPR Bilang Gini…

Komunikasi Politik Indonesia: Kata Profesor LSPR, Masih Abu-Abu!
image just illustration

Guys, pernah gak sih kalian ngerasa bingung sama komunikasi politik di Indonesia? Kadang kayak nonton sinetron, penuh drama dan plot twist! Nah, seorang profesor dari LSPR (London School of Public Relations), Lely Arrianie, baru-baru ini ngasih pernyataan yang bikin kita mikir keras. Katanya, model komunikasi politik kita tuh masih… abu-abu! Seriusan? Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Reformasi Bawa Perubahan, Tapi…

Profesor Lely bilang, sejak reformasi, komunikasi politik kita tuh udah bergeser jauh. Dulu, zaman Orde Baru, semuanya seragam dan santun (walaupun mungkin agak kaku ya). Sekarang? Wah, etika dan budaya politik seringkali diabaikan. Jadi, kayak bebas banget gitu, tapi kadang malah kebablasan.

“Terjadi pergeseran komunikasi politik dari yang bersifat santun dan seragam (pada era Orde Baru, ke arah komunikasi politik sebaliknya yang mengabaikan etika dan budaya politik,” ujar Profesor Lely. Hmm, bener juga ya?

Indonesia Butuh Model yang Jelas!

Nah, ini dia poin pentingnya. Profesor Lely menekankan, Indonesia tuh butuh banget model komunikasi politik yang jelas dan kuat. Kenapa? Biar kita punya budaya politik yang khas, yang sesuai sama identitas bangsa. Kalau gak ada model, ya kayak kapal tanpa kemudi, oleng sana-sini.

“Saat ini, kata dia, Indonesia belum memiliki model komunikasi politik yang jelas. Kalaupun ada, kata dia, itu bisa disebut sebagai model komunikasi politik yang tidak ada model.” Tegasnya.

Gaya vs. Model: Apa Bedanya?

Profesor Lely juga ngejelasin perbedaan antara gaya dan model dalam komunikasi politik. Gaya itu ciri khas individu politikus, sementara pola itu tindakan yang berulang. Nah, model itu sistem yang konkret, yang bisa jadi acuan buat menganalisis fenomena politik. Jadi, jangan ketuker ya!

“Yang dapat menjadi acuan untuk mempelajari kompleksitas sebuah fenomena agar bisa dipelajari atau dianalisa lebih lanjut,” kata Lely.

Komunikasi Politik Sekarang: Konvergen, Sirkular, Transaksional!

Dulu, komunikasi politik tuh linear, dari A ke B. Sekarang? Udah lebih kompleks! Profesor Lely bilang, komunikasi politik kita sekarang tuh konvergen (bertemu di satu titik), sirkular (berputar), bahkan transaksional (ada negosiasi). Jadi, lebih dinamis, tapi juga lebih rentan terhadap kepentingan individu.

Etika, Moral, Keadilan, dan Tanggung Jawab: Harus Jadi Prioritas!

Ini dia yang paling penting. Profesor Lely berharap, model komunikasi politik yang ideal tuh harus mengedepankan etika, moral, keadilan, dan tanggung jawab. Jangan cuma mikirin kepentingan sendiri, tapi juga kepentingan masyarakat luas.

Optimis ke Depan!

Meskipun masih banyak PR, Profesor Lely tetap optimis. Dia percaya, proses komunikasi politik di Indonesia sedang menuju ke arah yang lebih baik. Walaupun belum punya acuan model politik yang jelas, tapi semangatnya harus tetap membara!

“Saya optimis proses komunikasi politik Indonesia sedang berjalan ke arah yang lebih baik, meskipun sampai saat ini Indonesia belum memiliki acuan model politik,” teks dia.

Akibat Ketiadaan Model Komunikasi

Ketiadaan model komunikasi politik ini bahkan ia sebut dapat diemukan di pemerintahan. Seringkali kita terkaget-kaget memahami keputusan atau untuk menerimanya.

Yuk, Berkontribusi!

Gimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan pendapat Profesor Lely? Atau punya pandangan lain? Yuk, share pendapat kalian di kolom komentar! Kita diskusikan bareng-bareng biar komunikasi politik di Indonesia jadi lebih baik lagi! Jangan lupa, kunjungi terus website ini untuk mendapatkan informasi menarik lainnya!

Posting Komentar