Musisi Merapat! LMKN Ajak Penyanyi & Pencipta Lagu Ngobrol Santai Soal Royalti

Table of Contents

Wuih, para musisi merapat! Ada obrolan santai tapi penting nih soal royalti. Jadi, buat kamu yang berkecimpung di dunia musik, entah itu penyanyi atau pencipta lagu, simak baik-baik ya!

Panasnya Isu Royalti: Antara Pencipta, Penyanyi, dan LMKN

Belakangan ini, industri musik lagi rame banget nih. Kasus gugatan antara Ari Bias dan Agnez Mo jadi sorotan utama. Ari Bias menang dan Agnez harus bayar ganti rugi 1,5 miliar! Gara-garanya, Agnez nyanyiin lagu “Bilang Saja” buat komersil tanpa izin. Waduh!

Musisi Merapat! LMKN Ajak Penyanyi & Pencipta Lagu Ngobrol Santai Soal Royalti
image just illustration

Efeknya domino nih, kasus serupa juga nyangkut Keenan Nasution dan Rudi Pekerti versus Vidi Aldiano. Mereka merasa Vidi nyanyiin “Nuansa Bening” tanpa izin di banyak live event. Nggak tanggung-tanggung, gugatannya 24,5 miliar dan sita rumah!

Nah, terus gimana dong aturannya?

UU Hak Cipta: Blanket Licensing vs Direct Licensing

Di Indonesia, ada Undang-Undang Nomor 28/2014 tentang Hak Cipta. Pasal 23 ayat (5) bilang, semua orang boleh pakai karya cipta buat komersil dalam pertunjukan tanpa izin, asalkan bayar royalti ke pencipta lewat Lembaga Manajemen Kolektif (LMK). Sistem ini namanya blanket licensing.

Tapi, banyak pencipta yang nggak puas nih. Mereka gabung di Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) dan ngerasa royalti yang didistribusiin LMKN kurang oke. Piyu “Padi Reborn” aja bilang, tahun 2024 cuma dapet royalti sekitar Rp 125.000 setelah dipotong pajak. Tahun sebelumnya, 2023, dapet Rp 349.283. Kan lumayan jauh bedanya!

AKSI pengennya direct licensing, jadi pencipta bisa langsung bikin perjanjian sama penyanyi atau performer di live event atau konser, tanpa lewat LMK. Tapi, LMKN bilang aturan di Indonesia cuma blanket licensing. Kalo mau direct licensing, ya harus ubah aturan dulu.

Kata LMKN: Nggak Mau Ada Chaos!

LMKN khawatir putusan Ari Bias vs Agnez Mo bisa bikin ribut penyanyi dan pencipta, apalagi kalo pencipta nagih royalti sendiri. Padahal, LMKN pengennya penyanyi dan pencipta nggak saling tuntut.

Ketua LMKN Dharma Oratmangun dan Komisioner LMKN Johnny Maukar, Yessy Kurniawan, dan Ikke Nurjanah sempet ngobrol panjang lebar sama kumparan soal polemik ini. Intinya, mereka bilang LMKN cuma ngikutin aturan yang ada.

LMKN
image just illustration

Johnny Maukar juga nambahin, kalo pencipta mau nagih sendiri, siapa yang mau bayar? Promotor bisa lepas tangan, padahal seharusnya mereka yang bayar. Mereka yang tau berapa tiket laku dan bisa ngitung 2% royalti dari situ.

Yessy Kurniawan dari LMKN juga jelasin soal sistem teknologi lisensi yang mereka bangun. Promotor atau EO bisa akses sistem ini dan LMKN punya data lengkap. Tapi, mereka juga ngaku masih ada kekurangan, terutama kalo ngadepin promotor yang nggak bayar.

Transparansi Royalti: Ke Mana Aja Duitnya?

Banyak yang ngerasa LMKN kurang transparan soal royalti, makanya pendapatan pencipta kecil. Yessy Kurniawan jelasin, mereka punya teknologi lisensi yang bisa diakses promotor.

Contohnya, ada live event yang royaltinya Rp 35 juta. Plus pajak Rp 38 juta. Nah, Rp 35 juta ini dikurangi dulu 20% buat biaya operasional LMK dan LMKN. Sisanya baru dibagi prorata sama semua lagu yang dipake di acara itu.

Kalo ada 11 penyanyi, kira-kira seorang bisa dapet royalti Rp 2,54 juta. Lumayan kan? Apalagi kalo satu pencipta punya tiga lagu yang dinyanyiin, bisa dapet Rp 2,54 juta x 3!

Tapi, masalahnya bukan cuma soal metode pengumpulan royalti. Yang penting juga ketaatan pembayar royalti. Yessy ngajak Ahmad Dhani buat mikirin bareng gimana caranya biar semua event di 514 kabupaten kota bayar ke LMKN.

Gimana dengan Kafe dan Restoran?

Buat kafe, restoran, dan tempat komersil lain yang muter lagu, LMKN punya partner yang punya teknologi canggih. Jadi, pemakaian lagu di tempat-tempat itu bisa terlapor real time ke LMKN. Keren kan?

Tantangan di Lapangan: Promotor Nggak Bayar

LMKN nunjukkin data kalo ada 135 promotor atau penyelenggara event yang belum bayar royalti. Bahkan, ada nama-nama event besar di sana. Ketua LMKN Dharma Oratmangun nggak mau nyebutin siapa aja, tapi dia bilang 80% potensial loss buat pencipta.

Pasal 23 Ayat (5): Siapa yang Tanggung Jawab?

UU Hak Cipta pasal 23 ayat (5) bilang, “Setiap orang dapat melakukan penggunaan secara komersial ciptaan dalam suatu pertunjukan tanpa meminta izin terlebih dahulu....” Tapi, bukan berarti pencipta nggak dapet apa-apa. Mereka tetep dapet royalti lewat LMKN.

LMKN selama ini nafsirin kalo yang bayar royalti itu promotor. Kenapa? Karena mereka yang tau berapa tiket laku dan bisa ngitung 2% dari situ.

Imbauan dari Ikke Nurjanah

Komisioner LMKN Ikke Nurjanah ngajak semua pihak buat duduk bareng dan nyari solusi yang kondusif. Dia pengennya nggak ada lagi tuntut-menuntut.

Dia juga sedih kalo ada penyanyi yang takut nyanyi gara-gara takut dituntut. Ikke pengennya semua saling support dan ngingetin penyelenggara buat bayar royalti.

Kesimpulan: Yuk, Lebih Peduli Royalti!

Polemik royalti ini emang kompleks banget ya. Tapi, intinya satu: kita semua harus lebih peduli sama hak-hak pencipta lagu.

Dengan membayar royalti yang seharusnya, kita bisa menghargai karya mereka dan membantu mereka terus berkarya. Jadi, buat kamu yang berkecimpung di industri musik, yuk mulai sekarang lebih aware soal royalti! Jangan lupa share artikel ini ke temen-temen musisi lainnya ya! Kalo ada pendapat atau pengalaman soal royalti, tulis di kolom komentar ya! Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Posting Komentar